Categories
Perikanan

Cara Budidaya Lobster

Cara Budidaya Lobster

Cara Budidaya Lobster

Mengkawinkan Induk


Ibu hamil kawin antara 10 dan 12 bulan atau ketika panjang tubuh mereka mencapai 15-17 cm. Orang tua laki-laki dan perempuan yang akan bergabung digabungkan dalam wadah perkawinan dalam bentuk kolam atau akuarium 40 x 40 x 30 cm dengan ketinggian air 20 cm. Jumlah peternak yang disimpan dalam wadah perkawinan adalah 3 peternak jantan dan 5 peternak betina.

Wadah pernikahan diberikan tempat persembunyian dalam bentuk tabung paralon, 3 inci panjangnya relatif terhadap tubuh. Karena ada 8 ibu di kolam, kolam diisi dengan 8 lubang tersembunyi.

Pernikahan biasanya diadakan pada malam hari. Ketika kawin terjadi, lobster jantan mengeluarkan sperma dan menempatkan betina di dekat pangkal kaki kedua lobster. Air mani lobster berwarna putih, sedikit kental dan larut dalam air. Setelah kawin, lobster betina akan meninggalkan induk jantan dan bersembunyi.

Di dalam lubang, ibu perlahan-lahan akan melepaskan telur dari alat kelaminnya yang terletak di pangkal kaki ketiga. Telur kemudian akan melewati sperma dan menempel ke seluruh permukaan lambung. Jumlah telur yang dihasilkan oleh induk induk biasanya sekitar 200 telur. Setelah ibu bertelur, masukkan telur ke dalam tempat penetasan dengan hati-hati.


Proses Penetasan Telur

Kolam inkubasi yang digunakan adalah akuarium atau kolam berukuran 1 x 1 x 1 m dan tinggi air 0,5 meter. Pembenihan dapat berisi hingga 400 biji atau biji dari 2 induk betina. Anda juga dapat menemukan lubang untuk bersembunyi di kolam petani atau tempat benih keluar. Lubang persembunyian terbuat dari tabung paralon berdiameter 3 inci.

Pemindahan dari ibu harus dilakukan dengan hati-hati agar telur yang menempel di tubuh tidak jatuh. Saat menetaskan telur, sang ibu sangat malas dan pendiam di tempat persembunyiannya. Wanita itu mengerami telurnya dengan melipat kakinya ke dalam. Selama proses penetasan dan penetasan, suhu dalam wadah harus dijaga konstan, karena telur sangat sensitif terhadap perubahan suhu.

Telur yang diinkubasi oleh orang tua secara perlahan akan berkembang dan menetas dalam waktu sekitar 1 bulan. Pada minggu pertama, telurnya bulat dan masih berwarna kuning. Selain itu, telur akan berubah kehitaman dan bagian-bagian tubuh Anda, seperti mata dan kaki, akan mulai muncul. Sebulan kemudian, semua bagian tubuh terbentuk sepenuhnya atau menetas. Dalam 2-3 hari, semua biji dilepaskan dari tubuh ibu mereka.

Setelah benih ditetaskan dan dilepaskan, induk dipindahkan ke kelompok induk. Perawatan dilakukan selama minimal 2 minggu untuk memberikan waktu leleh sebelum kawin lagi.

 

Pemeliharaan Benih

Benih yang baru disisir disimpan di kolam inkubasi selama 10 hari. Selain itu, benih dipindahkan ke tangki ekspansi benih untuk disimpan selama 2 bulan. Selama perawatan benih, kualitas dan pasokan oksigen dalam wadah harus selalu dipertimbangkan dengan cermat. sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Setelah 8-15 hari, biji mulai terbentuk sebagai belalang dewasa dengan kulit kepala dan kulit tubuh.

Untuk menjaga kebersihan wadah pemeliharaan, wadah itu harus dikosongkan dan dibersihkan setiap 2 minggu untuk memprediksi munculnya mikroba. Dengan menurunkan dan membersihkan, benih dipindahkan ke wadah lain.

 

 

Sumber : https://anekabudidaya.com/

Categories
Perikanan

Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Budidaya ikan lele pembenihan semiintensif dilakukan tidak hanya dengan mengandalkan manipulasi lingkungan. Manusia lebih banyak ikut campur di dalamnya dengan beberapa sentuhan teknologi budidaya.

Salah satu kegiatan pokok atau kegiatan inti yang dilakukan pada budidaya ikan lele pembenihan semiintensif ini adalah induk yang akan dipijahkan (dikawinkan), baik jantan maupun betina, dirangsang terlebih dahulu menggunakan kelenjar hipofisa melalui penyuntikan. Jadi, pemijahan secara semiintensif tidak dilakukan secara alami. Keuntungan yang diperoleh dari budidaya ikan lele pembenihan semiintensif antara lain dapat diperkirakan jumlah produksi yang dihasilkan dan dapat diketahui saat telur ikan lele menetas. Selain itu, pemijahan dapat dilakukan kapan saja, bahkan di luar musim pemijahan. Jumlah produksi yang dihasilkan pun lebih tinggi jika dibandingkan dengan cara tradisional.

a. Pemeliharaan Induk – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Induk jantan dipelihara secara terpisah dengan induk betina. Hal ini lebih memudahkan dalam pengelolaan, pengontrolan, dan dapat mencegah terjadinya “mijah maling” atau pemijahan terjadi di luar kehendak.

Kolam induk pada budidaya ikan lele pembenihan semiintensif ini berupa kolam tanah, kolam tembok, atau kolam tanah dengan pematang tembok. Tidak ada ketentuan khusus tentang ukuran kolam untuk pemeliharaan induk. Biasanya hanya disesuaikan dengan kondisi lahan dan keuangan. Untuk memudahkan pengelolaan dan efisiensi penggunaan kolam, di sini dicontohkan luas kolam induk jantan dan betina masing-masing berkisar 15-30 m². Setiap kolam dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Di kedua saluran ini dipasang saringan agar hewan liar tidak masuk dan induk-induk yang dipelihara tidak dapat keluar atau kabur. Kepadatan penebaran antara 3-4 kg/m², sedangkan ketinggian air di kolam induk antara 60-75 cm dengan debit 20-25 liter/menit. Air yang mengairi kolam induk sebaiknva bersih dan tidak tercemar limbah rumah tangga atau limbah lainnya.

Agar diperoleh kematangan induk yang memadai, setiap hari induk diberi pakan bergizi. Jenis pakan yang diberikan berupa pakan buatan berupa pelet sebanyak 3-5% per hari dari bobot induk yang dipelihara. Pakan diberikan dua sampai tiga kali sehari pada pagi, sore, dan malam hari.

 

b. Pemilihan Induk – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Tidak semua induk yang dipelihara dapat dipijahkan. Hal ini disebabkan belum tentu semua induk telah matang kelamin dan siap dipijahkan. Karenanya, sebelum pemijahan, induk dipilih yang sesuai dengan persyaratan. Salah satu persyaratan yang mutlak adalah umur induk telah mencapai 12 bulan (1 tahun), baik jantan maupun betina. Pemilihan induk dilakukan dengan cara mengeringkan kolam induk, baik kolam induk jantan maupun betina, sehingga induk-induk ikan lele akan terkumpul di saluran tengah atau kemalir. Selanjutnya induk-induk tersebut ditangkap menggunakan seser dan ditampung dalam wadah, seperti ember atau tong plastik. Induk jantan dan betina dipilih dan dipisahkan sesuai dengan persyaratan yang ditunjukkan dengan ciri-ciri di bawah ini :

Ciri-ciri induk ikan lele betina yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.

  • Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
  • Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
  • Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna kekuning-kuningan dan ukurannya relatif besar.
  • Pergerakannya lamban dan jinak.

Ciri-ciri induk ikan lele jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.

  • Alat kelamin tampak jelas dan lebih runcing.
  • Warna tubuh agak kemerah-merahan.
  • Tubuh ramping dan gerakannya lincah.

Jumlah induk ikan lele yang akan dipijahkan disesuaikan dengan ketersediaan kolam pemijahan, kolam penetasan, dan rencana produksi atau target produksi yang ingin dicapai.

 

c. Pemijahan – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Pembuatan atau persiapan kolam pemijahan pada budidaya ikan lele pembenihan semiintensif ini dilakukan bersamaan dengan persiapan atau pemilihan induk. Untuk setiap pasang induk dengan berat 1 kg diperlukan satu buah kolam pemijahan, dengan ukuran 1 x 2 x 0,5 m. Sebelum digunakan, kolam atau bak dicuci bersih agar induk ikan lele terhindar dari serangan penyakit. Selanjutnya bak diisi air bersih setinggi 50-60 cm. Sebagai tempat menempelnya telur, di dasar bak dipasang kakaban yang terbuat dari ijuk. Kakaban harus menutupi seluruh permukaan dasar kolam pemijahan, sehingga semua telur ikan lele tertampung di kakaban. Bagian atas kolam pemijahan ditutup dengan papan atau triplek atau anyaman bambu untuk mencegah induk ikan lele yang sedang dipijahkan meloncat keluar.

Kawin Suntik – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Untuk merangsang induk ikan lele agar memijah sesuai dengan yang diharapkan, sebelumnya induk harus disuntik menggunakan zat perangsang berupa kelenjar hipofisa atau HCG (human chlorionic gonadotropin). Kelenjar hipofisa dapat diambil dari donor ikan-ikan lele atau menggunakan kelenjar hipofisa dari ikan mas yang telah matang kelamin dan telah berumur minimal 12 bulan. Jika menggunakan HCG, di pasaran HCG dapat dibeli dengan merek Ovaprim. Penyuntikan menggunakan kelenjar hipofisa cukup 1 dosis. Artinya, ikan donor yang akan diambil kelenjar hipofisanya, beratnya sama dengan induk ikan lele yang akan disuntik. Namun, jika menggunakan Ovaprim, dosisnya sebanyak 0,5 cc/kg induk yang akan dipijahkan.

Tidak ada syarat khusus ikan donor yang akan digunakan hipofisanya. Yang penting ikan tersebut dalam kondisi sehat dan sudah dewasa atau remaja.

Cara pengambilan kelenjar hipofisa jika menggunakan donor yang berasal dari ikan lele sebagai berikut.

  • Pilih dan timbang ikan lele donor sesuai dengan berat induk ikan lele yang akan disuntik.
  • Ikan lele donor dipotong tepat pada batas bagian kepala dengan badan.
  • Belah kepala lele dari arah bukaan mulut, ambil dan bersihkan dari bercak darah dan lendir.
  • Ambil kelenjar menggunakan pinset atau penjepit. Sebelumnya gunakan tang penjepit untuk mengangkat tulang penutup hipofisa.
  • Gerus atau hancurkan menggunakan alat penggerus. Alat penggerus dapat dibeli di toko alat-alat laboratorium atau kimia.
  • Sambil digerus, tambahkan pelarut akuabides sebanyak 1-2 cc.
  • Diamkan larutan kelenjar beberapa saat (tidak sampai 1 menit), selanjutnya ambil menggunakan spuit (alat injeksi atau alat suntik) dan kelenjar siap untuk disuntikkan.

Jika penyuntikan menggunakan kelenjar hipofisa yang berasal dari donor ikan mas, cara penyiapan kelenjar hipofisanya sebagai berikut.

  • Pilih dan timbang ikan mas donor seberat induk ikan lele yang akan disuntik.
  • Ikan mas donor dipotong tepat pada bagian atas antara kepala dan badan.
  • Ambil kepalanya, kemudian belah bagian atasnya, dari batas lubang hidung ke arah belakang.
  • Angkat bagian otak besar menggunakan pinset, lalu bersihkan darah dan lendir menggunakan kapas atau tisu.
  • Secara perlahan ambil kelenjar hipofisa yang berwarna putih menggunakan pinset.
  • Hancurkan atau haluskan (gerus) sambil menambahkan pelarut berupa akuabides sebanyak 1-2 cc.
  • Ambil kelenjar hipofisa separuhnya, kemudian suntikkan kepada induk ikan lele betina dan separuhnya lagi suntikkan kepada induk jantan.

Catatan : Penyuntikan harus dilakukan pada pagi atau sore hari. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung atau bagian daging ikan lele yang paling tebal dengan kemiringan lebih kurang sedalam 2 cm.

Pemijahan Alami – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Induk ikan lele yang telah disuntik selanjutnya dipijahkan secara alami. Induk tersebut dimasukkan ke dalam bak atau kolam pemijahan yang telah dipersiapkan. Induk akan memijah pada malam hari setelah 8-12 jam dari penyuntikan. Selama proses pemijahan berlangsung dilakukan pengontrolan agar induk yang sedang memijah tidak melompat ke luar tempat pemijahan.

 

d. Penetasan Telur dan Perawatan Larva – Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Setelah induk selesai memijah, pada pagi harinya telur ikan lele diangkat untuk ditetaskan di kolam penetasan. Induk ikan lele yang telah selesai memijah harus ditangkap dan dikembalikan lagi ke kolam pemeliharaan induk jantan dan betina.

Bak atau kolam penetasan telur bisa berupa kolam tembok atau kolam plastik. Kolam penetasan diisi air jernih dan bersih setinggi 10 cm. Air bisa berasal dari sumur pompa, sumur timba, atau cumber air lainnya, yang penting air tersebut tidak mengandung kaporit atau zat kimia berbahaya lainnya. Air yang berasal dari Perusahan Air Minum (PAM) harus diendapkan terlebih dahulu selama 1-2 hari, karena biasanya mengandung kaporit. Pada hari kedua biasanya kaporitnya sudah hilang dan tidak berpengaruh lagi bagi kehidupan lele.

Seluruh telur yang ditetaskan harus terendam air. Tentunya proses ini memerlukan kakaban. Karenanya, kakaban harus dipasang di dasar kolam dengan pemberat. Telur yang dibuahi dan akan menetas berwarna kuning cerah kecokelatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Telur akan menetas tergantung dari suhu perairan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas (tinggi), telur akan semakin cepat menetas. Begitu pula sebaliknya, jika suhu turun atau rendah, menetasnya semakin lama. Untuk daerah di sepanjang pantai utara Pulau Jawa dengan suhu udaranya yang relatif tinggi, telur ikan lele akan menetas menjadi larva antara 20-24 jam dari saat pemijahan.

Setelah dipastikan hampir semua telur menetas, bak penetasan harus sering dikontrol atau diamati. Larva yang baru menetas akan berkumpul di dasar bak. Selanjutnya, kakaban diangkat untuk menghindari penurunan kualitas air akibat adanya pembusukan dari telur-telur yang tidak menetas.

Larva lele yang baru menetas akan berwarna hijau dan berkumpul di dasar bak penetasan. Setelah berumur 2 hari, larva mulai bergerak dan menyebar ke seluruh bak penetasan. Sampai umur 3 hari larva tidak perlu diberi pakan tambahan, karena masih memanfaatkan cadangan makanan yang dibawa di dalam tubuhnya, yakni yang dikenal dengan kuning telur.

Larva ikan lele baru diberikan pakan tambahan setelah berumur 4 hari. Jenis pakan yang cocok untuk benih ukuran tersebut adalah pakan alami (makanan hidup) yang berukuran kecil, seperti kutu air (Daphnia sp., Moina sp.) atau cacing sutera. Pakan buatan kurang baik diberikan karena jika tidak habis akan membusuk, sehingga menurunkan kualitas air. Pakan alami diberikan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari sesuai dengan kebutuhan. Artinya, pakan yang diberikan ukurannya harus pas dan tidak boleh ada yang tersisa. Jika pakan alami banyak yang tersisa, akan terjadi persaingan kebutuhan oksigen di dalam air antara larva lele dan makanan alami tersebut. Hal ini bisa merugikan dan mengganggu pertumbuhan lele.

Faktor lain yang perlu diperhatikan selama pemeliharaan larva adalah kualitas air. Penggantian air dilakukan setiap 2-3 hari sekali atau tergantung dari kebutuhan. Jumlah air yang diganti sebanyak 50-70% dengan cara menyifon (mengeluarkan air secara selektif dengan selang) sambil membuang kotoran. Selang yang digunakan adalah selang plastik yang lentur dan biasa digunakan sebagai selang air.

Setelah berumur 2-3 minggu dan mencapai ukuran 1-3 cm, benih sudah siap untuk dipanen. Agar benih lele tidak mengalami stres, pemanenan harus dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah. Caranva, air di dalam bak atau kolam disurutkan secara perlahan, selanjutnya benih akan berkumpul di tempat yang paling dalam. Benih tersebut kemudian ditangkap secara hati-hati menggunakan sair (serok) yang halus untuk didederkan di tempat lain atau dapat pula dipasarkan (dijual) langsung kepada pembeli yang akan mendederkannya di tempat lain.

Jumlah benih yang dihasilkan dari pembenihan semiintensif ini tergantung dari ukuran dan tingkat kematangan induk yang dipijahkan. Sebagai patokan, dari seekor induk betina ikan lele yang beratnya berkisar 500-1.000 gram dapat dihasilkan benih sebanyak 40.000-50.000 ekor benih.

Categories
Perikanan

Cara Merawat Kolam Ikan

Cara Merawat Kolam Ikan

Merawat kolam ikan merupakan salah satu faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan budidaya ikan. Di Thailand, keberhasilan budidaya ikan tidak lain karena konstruksi kolam dibuat menurut kaidah yang benar. Ikan gurami (Osphronemus gouramy) akan lambat pertumbuhannya bila dipelihara di kolam ikan yang dangkal, sedangkan ikan tawes (Puntius javanicus) lebih cepat tumbuh apabila dipelihara di kolam ikan yang dangkal. Pada umumnya ikan air tawar dan payau lebih cepat besar bila dipelihara di kolam ikan berbentuk segi empat sama sisi atau bulat dan kelangsungan hidupnya (survival rate) lebih tinggi bila dipelihara di kolam ikan yang dikelola dengan baik. Karena kurangnya informasi, pada umumnya kolam-kolam ikan milik petani dibuat tanpa mempertimbangkan konstruksinya. Kolam-kolam ikan yang mereka miliki tidak lebih dari cekungan (Jawa: kowakan) tanah berisi air yang dipergunakan untuk menampung ikan. Bahkan tidak sedikit petani ikan yang belum paham cara membuat kolam ikan.

Merawat kolam ikan dapat dikatakan gampang-gampang susah. Kolam ikan yang dirawat secara sembarangan akan menyulitkan dalam pengelolaannya. Sedangkan kolam ikan yang dirawat dengan baik, maka pengelolaan budidaya ikan akan jauh lebih mudah.

Memelihara ikan secara intensif bukan hanya pakan tambahan yang mutlak diperlukan, tetapi menyangkut pula cara penyiapannya seperti pengeringan kolam ikan, pengapuran, pemupukan maupun pengelolaan airnya. Untuk mempermudah proses pengeringan kolam ikan, dasar kolam harus dibuat lebih tinggi dari permukaan saluran pembuangan. Sedangkan untuk mempermudah pemasukan dan pengaturan tinggi-rendah air kolam, maka tinggi pematang harus dibuat seimbang dengan letak sumber air. Demikian pula, untuk dapat memanfaatkan lahan dan air yang tersedia secara maksimal harus memperhitungkan bentuk, ukuran, jumlah petakan, dan letak kolam ikan.

Di daerah pegunungan yang memiliki kemiringan tanah cukup besar, relatif lebih mudah dalam merancang bentuk dan letak kolam. Tetapi di daerah ini biasanya tanahnya gembur, sehingga gampang tergerus air. Berbeda dengan jenis tanah di daerah dataran rendah yang terkadang berpasir atau liat berlumpur. Pematang kolam yang dibuat dari jenis tanah gembur (berlumpur) lebih mudah dibentuk, tetapi tidak kuat menahan tekanan air, mudah rembes, tidak kedap, mudah bocor (porous), dan mudah retak sehingga cepat ambrol. Sebaliknya, tanah liat yang terlalu lembek untuk dibuat pematang kolam memerlukan waktu lama. Di sinilah perlunya pengetahuan dan keterampilan dalam merawat kolam ikan.

 

PERAWATAN KOLAM IKAN

Kolam ikan serta seluruh perlengkapannya perlu dirawat secara baik. Selama masa pemeliharaan, kolam ikan selalu tergenang air, terguyur hujan, tercemar lumpur dan sampah atau terpanggang oleh panasnya sinar matahari. Akibatnya, kolam sering mengalami kerusakan, misalnya tanggul bocor atau retak, pintu air tersumbat, dan caren menjadi dangkal tertimbun lumpur atau sampah. Selain itu, banyak sekali hewan dan organisme liar yang hidup di dalam atau di sekitar kolam ikan yang termasuk dalam golongan hewan perusak, yaitu kepiting, tikus, dll.

Jika kolam ikan tidak dirawat dengan baik, bukan hanya fungsinya saja yang berkurang, tetapi tidak ada manfaatnya sama sekali. Oleh karena itu, perawatan kolam bukan hanya sekedar melindungi dan memperbaiki dari kerusakan, tetapi sekaligus memulihkan fungsi dan kegunaannya sebagai tempat yang layak untuk memelihara ikan.

Beberapa bagian kolam ikan yang perlu dirawat atau diperbaiki secara rutin adalah tanggul, parit, pintu air, dan saringan atau papan-papan penutupnya.

 

Perawatan Kolam Ikan Permanen

  • Menambal bagian tanggul yang rusak dengan semen atau campuran semen dan pasir. Kerusakan ringan pada tanggul permanen biasanya berupa kebocoran dan geripis.
  • Menyuntik atau menyumbat bagian tanggul yang retak. Bila retaknya kecil cukup disuntik dengan semen. Tetapi bila retaknya cukup parah harus disuntik (Jawa = dicokol) dengan campuran semen dan pasir.
  • Menyumbat lubang-lubang kecil di bawah pondasi tanggul dengan tanah liat berpasir. Tanah sumbatan ditimbunkan di atas lubang, lalu diinjak-injak hingga keras.
  • Bagian dasar tanggul di sekitar pintu air, meskipun tidak bocor, perlu ditimbun dengan tanah dan diinjak-injak hingga keras.
  • Membersihkan celah-celah papan kayu dan saringan pintu air yang tertutup oleh lumpur dan lumut. Sedangkan papan kayu yang rusak harus diganti.
  • Mengeluarkan lumpur, sisa pakan dan kotoran serta sampah yang tertimbun di caren. Caren dibuat lagi sesuai dengan bentuk semula.
  • Membersihkan saluran air di sekitar kolam. Akar-akar tanaman diIuar kolam yang menembus tanggul dipotong atau dicabut.
    Batu atau batu bata yang goyah dilekatkan kembali dengan semen.

 

Perawatan Kolam Ikan Non Permanen (Tanah)

  • Setiap kali selesai panen, tanggul di kedua nisi dan bagian atasnya dibersihkan dengan cara dikepras miring menggunakan cangkul. Sebarkan tanah keprasan ini ke tengah kolam (tidak di caren).
  • Sumbat tanggul yang berlubang atau bocor dengan tanah permukaan kolam yang dilumatkan. Tutuplah lubang (bocoran) ini, lalu tekan dengan tumit hingga terisi padat. Kemudian, tanggul dilapisi lagi dengan tanah baru yang juga telah dilumatkan.
  • Padatkan dasar tanggul di sekitar pintu air. Bila dasar tanggul bocor, perlu diperbaiki seperti pada penyumbatan tanggul.
  • Keluarkan lumpur, sampah, dan endapan lain yang tertimbun dalam caren. Kemudian, perbaiki atau buat caren baru dengan bentuk dan ukuran seperti semula.
  • Pintu air dari bahan bambu atau pipa PVC dibongkar lalu dibersihkan dan diganti bila telah rusak. Tanah dasar pada pintu air diganti dengan tanah baru yang telah dilumatkan sebelumnya.
  • Setelah pintu air ini dipasang kembali, tanah di sekelilingnya dipadatkan lagi dengan tanah liat berpasir yang diambil dari permukaan dasar kolam yang telah dilumatkan.
  • Saringan air yang rusak diganti atau diperbaiki kemudian dipasang seperti semula.
  • Pintu air yang dibuat permanen juga dibersihkan, dan bagian-bagian yang retak atau geripis ditambal. Celah-celah penempatan saringan atau papan kayu penutup dibersihkan dari lumpur atau lumut. Papan-papan kayu pembatas pintu air yang rusak juga diganti atau diperbaiki.
  • Saluran air di sekitar kolam dibersihkan dan diperbaiki. Akar-akar tanaman yang diperkirakan merusak tanggul kolam dipotong atau dicabut.
  • Hewan-hewan perusak tanggul atau perlengkapan kolam dimusnahkan. Ternak piaraan, seperti sapi, kerbau dan sebagainya dicegah melewati tanggul maupun parit atau saluran di sekitar kolam dengan di buatkan pagar keliling.